the not-so-friendly Harvey Nichols
November 9, 2008 by cewekcakep

Harvey Nichols di Edinburgh
Weekend kemarin, gw sama temen gw, Dewi janjian noton Quantum of Solace di Grand Indonesia. Gw ditipu ama Dewi yang bilang klo beli tiket pake kartu HSBC diskon 50%. Walau rumor itu benar adanya, namun HSBC yg dimaksud adalah yang premier atau platinum, yang standard alias yang kayak Dewi punya itu nggak. Melayanglah 50rb rupiah begitu saja…tapi buat nonton Daniel Craig as the sexy, wild and more vicious Bond, ane rela dah.
Setelah itu, kami memutuskan untuk jalan2 di mall. Pas liat ada poster Harvey Nichols yang baru dibuka, gw mengusulkan untuk pergi liat-liat kesana.
Si Dewi bilang, “mau beli apa lo disana?”
Gw jawab, “liat-liat aja. siapa tau ada biskuit yang lucu!”
Dewi langsung melongo mendengar jawaban gw, terus dia ketawa. “Lha, disana bukannya jual baju desainer?” katanya.
Gw masi kekeuh, “kan ada groceries store-nya juga! gw liat celeb-celeb di Inggris sana klo belanja dapur di Harvey Nichols!”
Karena gw lebih eksis di dunia pergosipan seleb luar, Dewi pun menyerah. Gw waktu itu sudah membayangkan judul-judul biskuit seperti ginger snaps, chocolate chip and nut, atau Chocolate praline butter. Semua dengan resep tradisional inggris. Yummm! *pluss, sapa tau bisa nyicip2. mimpi mode:on*
Kami berjalan dan melihat poster Harvey Nichols yang baru. Sebuah tas kulit warna ungu yang cantik berisi alat2 tukang seperti palu dan obeng. Poster yang aneh… Maksudnya apa tuh?
a. Wanita-wanita socialite yg suka blanja disana sekarang gemar bertukang?
b. Palu dan obeng adalah hot item yang harus dimiliki setiap fashionista? Atau,
c. tas inilah yang harus anda belikan untuk tukang kesayangan anda yang kebetulan gay?
Vote untuk pilihan yang anda yakini benar.
Setelah nanya-nanya, sampailah kami di lantai LG east mall Grand Indonesia, di depan toko Harvey Nichols yang beretalase unik: rangka T-rex dari hanger baju dan 2 manekin berbaju desainer (entah apa pula maksudnya itu). Moment-moment ketika gw dan Dewi mendekat, kami melihat 2 bule cowok yang kelihatannya gay mau keluar dari pintu toko. Seorang lelaki berseragam membukakan pintu lalu menutupnya kembali ketika sang bule sudah keluar. Dia menutupnya saat gw dan Dewi hampir 5 langkah (besar) lagi dari pintu. Gw terhenyak pada perlakuan itu.
Gw pun menyikut Dewi, “Wi, lo punya kartu kredit platinum, nggak?”
“Nggak,” jawab Dewi.
Kami langsung melakukan manufer tajam memutar eskalator di depan toko itu lalu memutuskan strategi berikutnya adalah naik ke lantai atas dimana menurut store directory yang ada di luar ada food section.
Lantai UG…more spooky then LG. Tidak ada petugas sih, tapi suasana toko menguarkan aura lo-nggak-bakalan-sanggup-deh-belanja-disini.
Lantai 1… tempat tas ama sepatu gt. Sepi banget. Banyak salesnya sih, tapi mereka menatap kami dengan tatapan hmmm-bukan-costumer-potential. sial.
lantai 2… tempat food dan barang-barang lain. Gw bisa melihat kotak-kotak kemasan Harvey Nichols yang lucu dari luar, pengen deh liat2 produknya. Tapi si satpam menatap kami curiga. Walkie talkie sudah standby untuk memanggil bantuan kalau2 kami membuat gerakan tiba-tiba. Gw akhirnya menyerah dan berkata, “kita ke atas lagi aja deh, Wi”.
Tibalah kami di lantai 3 dimana kami akhirnya bisa bernapas lega melihat Gramedia. Dewi nyeletuk, “klo yang disini gw sanggup belanja, Mel”. Kami pun memasuki toko dengan ceria dan Dewi segera menjauhkan diri seakan menjauhkan diri dari aib saat gw mampir ke tempat komik.
Ok, mungkin gw cuma berlebihan soal para penjaga dan sales di Harvey Nichols begitu seram. Mungkin cuma gw aja yang gak pede masuk ke sana. But really, that store is intimidating! Walaupun begitu, gw bertekad suatu hari berani masuk ke sana dan mampu membeli sesuatu.
Tapi gw masih heran deh, kok MAP berani sih bawa Harvey Nichols ke Indonesia yang notabene menjual baju yang sangat muahual… bahkan konon lebih mahal dari Al Fayed’s Harrods itu. Emang dia mikir orang Indo sekarang kaya banget ya?
We’ll see if it will be a success story, or a major flop.
Pertama…perasaan gw udah nggak enak waktu elo bilang itu toko cemilan, “HARVEY NICHOLS” tsama sekali tidak terdengar seperti nama toko cemilan. Kalo “UNCLE HARVEY`s” atau “Mrs. NICHLOS” mungkin kali ye….
Tapi menurut gw sih, Harvey Nichols is not that spooky..yah kayak Matahari Departmen Store, ada Gucci (yang jual gerabah itu loh) hadap-hadapan ma YSL, Cavalli tetanggaan ma Burberry..harganya juga sama kayaknya, cuma nolnya banyakan dikit.. (khayalan orang yang hanya memandang kosong dari depan etalase).
Trus gw dah niat beli-beli di tempat food dan pernak -pernik lucu itu. Gw kan haus banget, kayaknya enak tuh nenggak minuman di botol champagne warna-warni…pasti seger banget!! Elu sih, kecepetan memutuskan kabur…
—-sssttt, gw mau nelp bank gw, untuk ganti kartu kredit platinum. Ngidam kacang telor “Merk Harvey Nichols” nih—-